Bangun Sekolah Budaya Sebagai Bentuk Pelestarian Budaya

Bangun Sekolah Budaya Sebagai Bentuk Pelestarian Budaya

Biak, – Sekolah budaya Kampung Opieref, Distrik Biak Timur  diresmikan oleh Turbey O. Dangeubun selaku Kepala Bappeda Kabupaten Biak Numfor tepatnya pada tanggal 25 Oktober 2012. Setelah peresmian tersebut pengajaran sekolah budaya di lakukan dengan perencaan awal pengajaran sekolah budaya  di lakukan tiga kali  dalam seminggu yaitu Hari Senin, Kamis Dan Sabtu.

“Kegiatan Sekolah Budaya Kampung hingga sekarang telah berjalan selama 3 tahun yakni sejak tahun 2012-2015,” ujar Welly Morin , Koordinator Lobby, Advokasi dan Budaya , Yayasan Anak Dusun Papua (Yadupa) saat ditemui di Hotel Mapia pada akhir Mei lalu. Dalam melaksanakan kegiatan program ini pihaknya melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat , pemerintah, tokoh perempuan  dan tokoh pemuda.

Aktivitas yang dilakukan pada Sekolah Budaya Kampung Opiaref   terbagi atas tiga kelas yakni Wor, Ukiran dan Tarian. Pengajaran ini dibagi menjadi dua yaitu melalui pemberian teory maupun praktek. Namun tentu  saja dalam implementasi program  ini mempunyai hambatan ataupun kendala. “ Walau dalam pelaksanaan hingga sekarang Sekolah Budaya Kampung dapat berjalan lancar namun kami mempunyai kendala saat pelaksanaan program ini misalnya  para pengajar yang telah diminta membantu dalam proses belajar ternyata mereka tidak jadi mengajar” ujar Welly. Namun hal ini tidak mematahkan semangat mereka bahkan memacu semangat Welly Morien dan teman-temannya untuk dapat mensukseskan pelaksanaan program dan mempunyai manfaat bagi masyarakat khususnya masyarakat Kampung Opiaref dalam melestarikan nilai-nilai budaya yang terasa mengalami degradasi dikalangan anak muda.

Mengenai hanya terdapat tiga kelas yakni Wor, Tarian dan Ukir menurut Welly Morien , ini merupakan keputusan bersama masyarakat Kampung Opiaref. “Diputuskan 3 kelas pelajaran, karena merupakan masukan masyarakat dengan pertimbangan timbulnya degradasi budaya di Kampung Opiaref sejak 1990 hingga tahun  2000-an semakin terasa. Sehingga masyarakat  memutuskan perlu direvitalisasi kembali serta dilestarikan kepada generasi muda terutama bagi siswa SD dan SMP,” tukas Welly Morin.

Sementara itu Ketua Sekolah Budaya Kampung  Opiaref, Boweden Rumbino mengatakan bahwa dalam pelaksanaan Sekolah Budaya Kampung selama tiga tahun mempunyai manfaaat. “ Manfaatnya sudah ada, beberapa anak yang sudah lulus mereka bisa main musik sendiri, melakukan wor dan mengukir juga sudah bisa. Dan mengembangkan kreatifas mereka dikampung sesuai bidang-bidang yang sudah ada” ujar Boweden Rumbino

Ditambahkannya bahwa keberhasian Sekolah Budaya Kampung Opiaref  tidak lepas dari dukungan berbagai pihak yakni pihak Gereja , pemerintah dan  Yayasan Anak Dusun Papua (Yadupa). Dan hingga saat ini salah satu keberhasilan yang dirasakan adalah anak-anak bisa dibuktikan dalam kegiatan sekolah budaya, mereka juga bisa menyanyi di Gereja dalam persekutuan dan juga anak-anak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan Wor, Tarian serta mengukir dan dapat dikembangkan sesuai dengan kreatifitas mereka.

Boweden Rumbino berharap kedepannya ada perhatian dari pihak pemerintah daerah untuk memberikan dukungan yang lebih besar lagi. Dan diharapkan kedepannya Sekolah Budaya Kampung bisa berjalan hingga mandiri. “Dan secara khusus saya menyampaikan terima kasih kepada Yadupa yang telah memberikan dukungan dan perhatian yang begitu besar bagi kelestarian Budaya Byak diantaranya Wor, Tarian dan Ukir,” ucap Boweden Rumbino.

Jumlah siswa semenjak sekolah ini diresmikan adalah 166 siswa yang terdiri dari 79 siswa laki-laki dan 89 siswi perempuan. Dan hingga kini mempunyai 1 Kepala dan 3 orang pengajar untuk kelas Wor, Tarian dan Ukir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *